Gaya hidup praktis sebabkan penggunaan plastik sekali pakai tinggi
Gaya Hidup Praktis Picu Tingginya Penggunaan Plastik Sekali Pakai Jakarta (ANTARA) - Gaya hidup serba praktis masyarakat Indonesia menjadi faktor utama tingginya penggunaan plastik sekali pakai. Hal i...
Gaya Hidup Praktis Picu Tingginya Penggunaan Plastik Sekali Pakai
Jakarta (ANTARA) - Gaya hidup serba praktis masyarakat Indonesia menjadi faktor utama tingginya penggunaan plastik sekali pakai. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, dalam sebuah webinar yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (8/6/2024).
"Hal ini didorong oleh perubahan gaya hidup atau lifestyle dan pola konsumsi masyarakat Indonesia memang ingin praktis, sehingga banyak menggunakan plastik sekali pakai," ujar Rosa.
Lonjakan Sampah Plastik Nasional
KLHK mencatat, pada tahun 2021, total sampah nasional mencapai sekitar 68,5 juta ton. Dari jumlah tersebut, terjadi peningkatan signifikan pada sampah plastik, dari 11 persen pada tahun 2010 menjadi 17 persen pada tahun 2021. Data ini menunjukkan persoalan sampah di Indonesia semakin kompleks dan membutuhkan penanganan serius.
"Persoalan sampah belum selesai, bahkan semakin kompleks dengan magnitude yang semakin besar," kata Rosa menambahkan.
Upaya Pemerintah Mengatasi Masalah Sampah
Pemerintah terus berupaya untuk mengatasi masalah sampah dari hulu hingga hilir. Salah satu langkah yang diambil adalah mewajibkan produsen untuk mengurangi sampah plastik yang berasal dari produk dan kemasan produk mereka. Kewajiban ini tertuang dalam Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Dalam peraturan tersebut, produsen memiliki tanggung jawab untuk membatasi timbulan sampah, mendaur ulang sampah melalui penarikan kembali, dan memanfaatkan kembali sampah.
Peran Produsen dan Konsumen
Rosa Vivien Ratnawati menekankan pentingnya peran produsen dan konsumen dalam mengatasi masalah sampah. "Di hulu ada dua pihak yang besar, yang harus kita tangani. Pertama adalah diri kita, individual. Di hulu kita harus memilah sampah, tapi ada juga yang lain, yaitu produsen," jelasnya.
Ia menambahkan, produsen barang yang menggunakan kemasan atau barang yang setelah dipakai langsung dibuang, terutama yang menggunakan plastik sekali pakai, memiliki peran penting dalam mengurangi produksi sampah.
Inisiatif Plastic Credit sebagai Solusi
Webinar yang bertajuk "Plastic Credit, Gagasan Baru Solusi Pengurangan Sampah Plastik?" tersebut membahas potensi penerapan sistem plastic credit sebagai salah satu solusi inovatif dalam mengurangi sampah plastik. Sistem ini diharapkan dapat memberikan insentif bagi perusahaan atau individu yang berkontribusi dalam pengumpulan dan daur ulang sampah plastik.
Dengan adanya plastic credit, diharapkan akan semakin banyak pihak yang termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pengurangan sampah plastik, sehingga beban lingkungan dapat dikurangi secara signifikan.
Kesimpulan
Meningkatnya penggunaan plastik sekali pakai akibat gaya hidup praktis menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Pemerintah, produsen, dan konsumen memiliki peran penting dalam mengatasi masalah ini. Upaya pengurangan sampah dari hulu, seperti memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta tanggung jawab produsen dalam mendaur ulang dan memanfaatkan kembali sampah, menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Inisiatif seperti plastic credit juga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mengurangi dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan.
Sumber: antaranews.com