Ekonomi & Bisnis 22 Jul 2025, 19:55

Rupiah Naik Terbatas terhadap Dolar AS Hari Ini 22 Juli 2025

Rupiah Naik Terbatas terhadap Dolar AS Hari Ini, Bagaimana Prospeknya Esok Hari? Jakarta, Liputan6.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan S...

Rupiah Naik Terbatas terhadap Dolar AS Hari Ini, Bagaimana Prospeknya Esok Hari?

Jakarta, Liputan6.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa (22/7/2025). Penguatan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap independensi The Federal Reserve (The Fed) dan ketidakpastian ekonomi global.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencatat bahwa rupiah ditutup menguat 3 poin ke level Rp 16.319 per dolar AS, setelah sempat menguat hingga 30 poin. Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 16.325 per dolar AS.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.310 - Rp.16.360," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/7/2025).

Fokus Pasar Tertuju pada The Fed dan Data Manufaktur AS

Ibrahim menjelaskan bahwa fokus pasar saat ini tertuju pada pidato pembukaan Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam sebuah acara yang diadakan oleh Federal Reserve. Selain itu, pasar juga menantikan data aktivitas manufaktur Richmond.

Kekhawatiran terhadap independensi The Fed meningkat setelah seorang anggota DPR AS melaporkan Ketua Jerome Powell ke Departemen Kehakiman atas tuduhan memberikan keterangan palsu di hadapan Kongres terkait renovasi kantor pusat The Fed senilai USD2,5 miliar.

"Meskipun konsekuensi hukumnya masih belum pasti, tekanan politik memicu kekhawatiran investor dan menambah ketidakpastian baru pada sentimen pasar yang sudah rapuh," ujar Ibrahim.

Sinyal Penurunan Suku Bunga The Fed Masih Beragam

Pasar terus mencerna sinyal beragam dari beberapa pejabat The Fed mengenai potensi penurunan suku bunga pada Juli mendatang. Saat ini, probabilitas menunjukkan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunganya, dengan peluang sebesar 97% untuk mempertahankan suku bunga dan 3% untuk penurunan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 30 Juli.

Ketidakpastian Ekonomi Global Membayangi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Ibrahim juga menyoroti kondisi perekonomian global 2026 yang masih sulit ditebak. Pertumbuhan ekonomi 2026 sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan internal. Bank Indonesia (BI) cenderung lebih hati-hati dalam membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026, dengan kisaran 4,70%-5,50%. Perlambatan ekonomi dunia, khususnya di negara mitra dagang utama seperti AS dan China, berdampak pada kinerja ekspor nasional.

"Pemerintah juga perlu mempertimbangkan mengambil langkah kebijakan yang bersifat countercyclical untuk meredam dampak fluktuasi ekonomi. Mendorong belanja pemerintah lebih produktif dan memberikan stimulus yang tepat sasaran baik bagi kalangan miskin, rentan terutama untuk kelas menengah," ujarnya.

Stimulus Fiskal dan Moneter untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Ibrahim menyoroti pentingnya stimulus fiskal untuk sektor transportasi, bantuan sosial, subsidi upah, insentif jalan tol, dan tambahan bantuan pangan beras. Insentif sektor transportasi dan tarif tol menyasar kelompok kelas menengah, sehingga mobilitasnya lebih tinggi pada masa libur sekolah. Sementara itu, bantuan sosial, subsidi upah, dan bantuan pangan lebih terfokus pada kelompok rentan dan miskin, sehingga bisa bertahan di tengah pelemahan ekonomi nasional.

Dari sisi moneter, kebijakan yang bersifat ekspansif melalui relaksasi suku bunga acuan (BI rate) dilakukan untuk menurunkan suku bunga kredit. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit, baik untuk investasi maupun konsumsi. Kebijakan moneter ekspansif BI sejalan dengan kecenderungan inflasi yang cukup rendah.

"Pemerintah dan BI harus menyadari, untuk saat ini countercyclical policy fiskal dan moneter belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," pungkas Ibrahim.

Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah, investor dan pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Hal ini penting untuk mengambil keputusan investasi yang tepat dan meminimalkan risiko.

Sumber: liputan6.com